Keprihatinanku kali ini mulai memuncak, merongrong hati sebagai anak negeri yang sudah mulai mengerti dan belajar untuk ikut berperan dalam kemajuan negeri ini. Keprihatinanku ini entah harus aku berikan kepada siapa? Negeri yang berasal dari kebudayaan melayu ini sepatutnya memelihara budaya melayu dengan kesopan santunannya. Negeriku yang subur ini memang sudah terlanjur manja dengan segala kekayaan alamnya, dan bertumpu pada satu kekuatan penguasa negeri ini. Ratusan tahun negeriku ini terdiri dari kerajaan-kerajaan kaya dan kuat, ratusan tahun pula negeri ini terjajah oleh bangsa feodal, dan selama 32 tahun negeri ini dikuasai gaya pimpinan diktator.
Reformasi…kata yang pernah terngiang di telingaku dan menjanjikan sebuah keadilan untuk rakyatku. Sebuah kebebasan yang kini “kebablasan” dan mengantarkan harimau-harimau negeri yang sudah tertidur lama dan bangun untuk menghujam budaya sopan santun dan mencoreng muka negeri ini.
Pikiranku mengeruak keluar karena masalah demi masalah yang bertubi-tubi menghujam negeri ini selama periode enam tahun. Tsunami di Aceh, gempa di Yogjakarta, gempa di Padang, dan ribuan cobaan yang diberikan Tuhan sepertinya uran tidak menyadarkan bangsa untuk berpikir lebih bijak dalam penyelesaian masalah apapun yang diterima. Bangsaku ini bangsa Amnesia yang lupa dengan teguran Tuhan yang diterima negeri ini.
Masalah KPK VS Polry dan Bank Century telah mencoreng budaya sopan santun negeri. Masalah yang berasal dari dana 6,7 Triliun itu membuat pikiranku ini berbelok arah tentang kinerja sebuah pemerintahan. Hati ini pun pilu dan bergerak untuk apa yang dapat aku lakukan? Apa yang dapat aku lakukan untuk membantu negeri ini ? apa yang dapat aku sumbangkan?
Keprihatinanku..ini terjadi bukan tanpa alasan dimulai dari terlalu ramahnya seorang anggota DPR ketika pansus Bank Century kepada mantan seorang wakil presiden RI, sehingga melukai daerah tertentu di negeri ini. Di tengah-tengah penyelesaian masalah-masalah bangsa dan pembenahan atas kesalahan oleh pemerintah tetapi kejatuhan etika bangsa harus dibayar murah oleh rakyat bangsa ini sendiri. Ekpresi kebebasan berpendapat yang disalahgunakan..diekspresikan lewat sebuah kerbau, kambing, ayam..dan entah apalagi?? Sadarkah mereka bahwa mereka telah mencoreng muka pemimpinnya sendiri. Sadarkah mereka telah menjatuhkan etika bangsa sebagai nilai luhur dari budaya bangsa Indonesia.
Pada faktanya negeri ini memang begitu banyak persoalan yang perlu dibenahi. Bila dirujuk hanya dari kasus Bank Century mungkin itu hanya satu per seribu persoalan bangsa. Hampir di semua kementrian dan lembaga mengalami beragam persoalan. Lalu…bila satu persoalan harus menjatuhkan etika sebesar Sembilan puluh derajat, maka akan menjadi seperti apa negeri ini bila semua persoalan dihadapi dengan kemurkaan, kedzoliman, pencorengan terhadap negeri yang telah menjadikan kita dapat berdiri sebagai pandu.
Persoalan bangsa bukan berada hanya pada kementerian keuangan saja bung.. pernahkan rakyat Indonesia tahu bagaimana pertanggungjawaban setiap Pemerintah Daerah kepada rakyat?? Ketimpangan pendapatan asli daerah pada tiap provinsi bukan menjadi suatu masalah besar apabila DAU dapat dibagi sesuai kebutuhan tiap daerah dan dapat diserap dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat. Hasil pemeriksaan BPK menemukan 556 kasus penyimpangan yang menyebabkan kerugian senilai Rp 310,8 miliar dan 126 kasus berpotensi menimbulkan kerugian sebesar Rp 1,31 triliun. Selain itu, ditemukan sebanyak 629 kasus yang menyebabkan kekurangan penerimaan senilai Rp 2,20 triliun. Artinya, seandainya pengelolaan dan pertanggungjawaban dilakukan dengan benar, uang sebesar itu akan masuk sebagai penerimaan. Di saat yang sama, BPK juga menemukan adanya anggaran yang belum atau tidak dipertanggungjawabkan senilai Rp 1,49 triliun yang terjadi dalam 212 kasus. Itu masih belum semua. Sebab, BPK juga masih menemukan kasus-kasus yang memboroskan uang negara dengan nilai Rp 205,1 miliar dan penggunaan anggaran yang tergolong tidak efektif sebesar Rp 2,48 triliun. Pendek kata selama tahun 2007 saja sedikitnya terjadi 3.051 kasus penyimpangan yang mengakibatkan kerugian senilai Rp 9,93 triliun. Ironisnya..apakah rakyat juga tahu masalah ini?? Apakah masalah ini banyak diangkat sebagai topik berita hangat dan digembor-gemborkan pada acara talk show yang diangkat untuk meng-undersetimate pemerintah?
Kekuasaan bukan hanya menjadi suatu gengsi politik yang menggiurkan untuk menjalankan usaha orang-orang yang dianggap orang terkaya di Indonesia. Kekuasaan yang menjadikan negara ini rugi pajak. Ada berapa milyar rupiah uang pajak yang tertahan setiap tahun di kantongnya ?
Permasalahan yang bukan hanya bertumpu pada pemerintah pusat tetapi juga ada pada tubuh pemerintah daerah masing-masing propinsi. Bukan hanya pada bidang keuangan tetapi sudah menjamur pada bidang-bidang lain. Permasalahan yang terjadi bukan hanya terjadi di atas tetapi sudah menurun ke menengah ke bawah.
Salah satu penyakit negeri ini yang sudah lama diidap oleh bangsa selama ratusan tahun dan sudah menjadi satu kebudayaan dan mendarah daging di urat nadi secara turun-temurun. Apakah kita pernah berkaca pada diri kita masing-masing tentang masalah ini? Pernahkah kita berpikir bahwa setiap almamater adalah amanah rakyat yang dibayar dari uang rakyat? Lalu berapa kali kita tidak dapat mengemban amanah itu? Ada berapa ilmu yang kita sepelekan dalam perkuliahan? Itu adalah KORUPSI HALUSMU!
Mahasiswa harus terus menjadi pihak yang kritis tentang kebijakan pemerintah. Berpikir dengan cara intelektual dengan semangat pemuda. Generasi yang akan melanjutkan perjuangan di kemudian hari. Mahasiswa bukanlah preman jalanan yang tidak ber-etika. Mahasiswa harus mengerti bagaimana cara berekspresi dengan baik. Mahasiswa harus membuktikan bahwa perjuangan kita sebagai mahasiswa tidak hanya terletak berapa kali kita berdemonstrasi? Sebanyak apa masaa yang bisa kita bawa? Tidakk...kawan, demonstasi hanya perjuangan terkecil kita dalam membela rakyat Indonesia. Perjuangan kita sesungguhnya adalah kesiapan kita memajukan negeri ini? Negeri ini butuh pemikiran briliant kita bung...bukan hanya bentuk orasi saja. Buktikan bahwa ada perubahan ketika kita memimpin negeri ini dan hal itu adalah tantangannya. Hidup Mahasiswa...!
Hidup kemajuan Indonesia...!!