Entah mengapa hari ini hatiku ini sangat sedih. Hatiku tersiksa, batinku tak kuasa menahan perih, dan air mata ini pun jatuh walaupun sebenarnya sudah kucoba tahan linanganya. Berlebihan rasanya bila aku katakana aku menangis hari ini. Kesedihan ini bukan karena semata karena dijatuhkanya vonis 18 tahun kepada mantan ketua KPK Antasari Azhar namun lebih daripada itu aku menjadi sangat ragu akan tegaknya sebuah keadilan ni negeri ini. Adakah singa-singa muda yang dapat meneruskan perjuangannya dalam pemberantasan korupsi? Orang yang dapat mengungkap kebenaran harus menerima jebakan rekayasa sebuah kasus pembunuhan. Bagaimana lepasnya tertawa si pembuat strategi busuk itu?
Mungkin…kesedihanku ini sungguh berlebihan namun pemikiran dan perasaanku bukan hanya karena kasus Antasari Azhar. Sebaliknya di sisi lain banyak rakyat kecil yang masih berharap banyak untuk keadilan di negeri ini. Keadilan dalam semua bidang, bukan hanya penegakan hukum tetapi bidang-bidang lain. Masih banyak rakyat yang belum mendapatkan keadilan dan menjadi korban tikus-tikus politik. Bila pemburu tikus ini sudah dikurung, lalu bagaimana dengan berkembangnya tikus-tikus politik yang pasti akan semakin merajarela?
Cerita yang menyayat hati ini adalah ketika seorang anak kecil yang tak tahu bagaimana kebobrokan Negara ini bercerita tentang mimpinya membawa harum bangsa ini. Anak kecil yang masih sangat polos itu dengan semangat berkata “Indonesia pasti akan maju kak..!” entah mengapa aku tak dapat bersembunyi dari air mata cengengku malam ini. Aku pun berusaha menghiburnya dengan terbata aku bilang “pas..ti adek..ku…”. Dalam hati aku berdoa semoga adek kecil ini bisa kuat menghadapi apapun hal yang menerjangnya meskipun itu adalah sebuah ketidakadilan.
Di luar sana masih banyak petani yang hasil panennya dibayar tak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah pada komoditas pertanian. Mereka tidak mendapat keadilan oleh tengkulak dan keadilan mereka tak diperhatikan oleh pemda setempat. Panen dengan satu kali dalam setahun dengan harga jual rendah, harga pupuk yang tinggi bahkan sulit dicari, bahkan terkadang lahan kebun yang mereka kelola selama puluhan tahun bukan milik pribadi yang artinya ada pembagian yang sudah jelas lebih kecil dibanding pemilik lahan.
Di luar sana masih banyak yang tidak dapat merasakan indahnya pendidikan. Masuk sekolah SMP dan SMA negeri harus pakai uang pelicin? Data UN dimanipulasi? Siswa mendapat kunci jawaban UN? Fasilitas sekolah yang kurang memadai? Guru-guru yang belum mendapat kesejahteraan? Bahkan ada kepala sekolah yang terpaksa bekerja sambilan menjadi pemulung! Fasilitas sekolah berwawasan Internasional dibayar sangat mahal oleh orang tua murid bahkan sampai jutaan per bulan?
Begitu banyak ketidak adilan yang harus dibenahi bahkan dirombak ulang. Agar tak ada satu pun rakyatku ini yang merasakan ketidakadilan di negeri ini. Aku hanyalah mahasiswa awam akan ilmu hukum namun demikian hari ini aku ingin berbagi akan kesedihanku ini.